• +62811-220-2776/ +62811-220-3776
  • daqubandung@sdqi.sch.id
  • Ujung Berung, Bandung, Jawa Barat
Kegiatan
Ke Daarul Qur’an Bandung Mau Jadi Apa?

Ke Daarul Qur’an Bandung Mau Jadi Apa?

Bandung_Daqu News

Hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Pesantren (MPLP) diisi dengan materi oleh Pengasuh Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Bandung Kyai Hairurrozi, S.Pd.I., M.Sy., Al-Hafizh.

Materi pertama berjudul “Ke Daarul Qur’an Mau Apa?” menjadi materi yang penting disampaikan oelh pengasuh kepada peserta MPLP baik SMP-SMA maupun Tahfizh Camp sebagai “bekal” awal menjadi santri di Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Bandung.

Masuk ke Daarul Qur’an Bandung? Emang mau jadi apa nanti? Itu adalah pernyataan yang seringkali melintas di pikiran orangtua, yang ingin menyekolahkan anaknya di Pesantren. Bagi mereka, tidak ada yang lebih penting dari masa depan anak-anak, kebahagiaan mereka di masa yang akan datang. Dengan menjadi murid sekolah negeri terkenal, atau sekolah swasta yang favorit, paling tidak bisa menjamin kesuksesan anak-anak setelah lulus, daripada yang hanya sekolah di pesantren. Kesannya: Lulusan pesantren paling menjadi guru ngaji, yang kesejahteraannya sangat memperihatinkan.

Namun perlu diingat, setelah Indonesia mendapatkan kemerdekannya, pesantren banyak menyumbangkan tokoh-tokoh penting dalam pemerintahan Indonesia, sebut saja Mukti Ali yang dahulu pernah menjabat sebagai Menteri Agama, M Natsir, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presidan Indonesia yang keempat, dan baru-baru ini sosok santri terbaik nusantara, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin terpilih menjadi wakil presiden RI, adalah juga mewakili tokoh yang muncul dari kalangan pesantren.

“Luruskan niat ketika kita sudah yakin dan mantap menjadi santri Daarul Qur’an Bandung”.

“di Daarul Qur’an ibarat seperti ayam yang berada di lumbung padi, mau kenyang memanfaatkan melimpahnya makanan, atau malah sebaliknya mati di lumbung padi.” Penjelasan Pengasuh.

Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Bandung mempunyai lokomotif utama yaitu Tahfizh yang menjadi tujuan utama para santri dan walisantri “menyantrenkan” putera-puterinya. Tidak hanya itu sebagai pendukung menjadi penghafal Qur’an yang berakhklakul karimah menjadi tujuan selanjutnya para calon santri dan walisantri. Selanjutnya, guna mengimbangi perkembangan zaman dan tantangan ilmu pengetahuan, penempaan pendidikan akademik dengan jargon “berdaya saing global” menjadi menu selanjutnya yang didapatkan santri guna memperoleh lulusan-lulusan yang tidak hanya seorang hafizh yang berakhlakul karimah namun mampu bersaing dalam ilmu-ilmu sains.

“Ketika Qur’an sudah di hati insya Allah dunia akan mengikuti, ga usah khawatir, ga usah ragu, mau apa? Mau kemana? para penghafal Qur’an sudah dijamin oleh Allah”. Ungkap Kyai Rozi (Sapaan akrabnya).

Dalam film Negeri 5 Menara, seperti itulah secuil kisah dari pesantren. Tokoh Alif yang bisa pergi keluar negeri itu bukan cuma manis-manis alur cerita. Pada kenyataanya sudah banyak lulusan pesantren yang melanjutkan karir dan juga pendidikannya baik di dalam maupun luar negeri. Tidak sedikit juga yang melanjutkan studi umum maupun agama di Timur Tengah hingga ke Benua Eropa dan Amerika, tak terkecuali lulusan-lulusan santri Daarul Qur’an Bandung.AF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Daqu Help Chat
Send via WhatsApp